BAHASA ARAB SEBAGAI BAHASA KEDUA (KAJIAN TEORITIS PEMEROLEHAN BAHASA ARAB PADA SISWA NON-NATIVE)
Kajian tentang
pemerolehan bahasa asing pada siswa non-native di indonesia menjadi sangat
penting untuk mengetahui bagaimana orang indonesia memperoleh bahasa asing dan
mampu memahami kaidah kaidah pada bahasa sasaran tersebut. Kemudian bagaimana
mereka mampu mempersepsi ujaran-ujaran dalam bahasa asing dan mampu memahaminya
sehingga memiliki keterampilan dalam berbahasa tutur dengan bahasa asing.
Melalui kajian ini dapat diketahui pula bagaimana manusia yang sudah memiliki
bahasa pertama dan kedua dapat memproduksi ujaran dalam bahasa lainnya (foreign
language) apabila dia mengetahui kaidah-kaidah bahasa asing tersebut yang harus
diikuti yang dia peroleh dalam proses pembelajaran.
Fromkin
dan rodman menjelaskan bahwa ada dua pengertian mengenai pemerolehan bahasa.
Pertama, pemerolehan bahasa mempunyai permulaan yang mendadak, tiba tiba, kedua
pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari
prestasi-prestasi motorik sosial, dan
kognitif pralinguistik.
Teori
pemerolehan bahasa kedua dibagi menjadi dua teori. Teori yang pertama yaitu
teori pembiasaan operan (aliran behaviorisme) yaitu menelisik pada hubungan
antara stimulan yang berasal dari luar organisme dengan respon dari dalam
organisme tersebut atau reaksi yang muncul atas masuknya stimulan dari luar
organisme. Salah satu contoh dalam proses pembelajaran bahasa asing, manusia
menjadi satu organisme yang mempelajari bahasa. Dia akan menerima
stimulan-stimulan dari luar diri manusia seperti, lingkungan, buku-buku, dan
lainnya yang akan direspon oleh manusia sebagai organisme itu sendiri dengan
memunculkan reaksi-reaksi atas stimultan seperti reaksi dengan menggunakan
bahasa sasaran dalam percakapan sehari-hari. Dalam operasi pembiasaan operan,
skinner membagi ke dalam dua perilaku dalam pemerolehan bahasa. Pertama adalah
perilaku jawaban (respondent behavior) pada fase ini reaksi muncul dengan
sendirinya, segera setelah stimulus muncul. Kedua adalah perilaku operan
(operant behavior) pada fase ini stimulusnya tidak dibangkitkan, akan tetapi timbul
dari organisme itu sendiri.
Teori
yang kedua adalah kompetensi linguistik (aliran mentalistik) yaitu pemerolehan
bahasa tidak terlepas dari piranti pemerolehan atau acquisition device, yang
merupakan piranti dari hipotesis pemerolehan bahasa yang berdasarkan pada input
data linguistik primer dari sebuah bahasa, yang menghasilkan satu output yang
terdiri atas satu tata bahasa secara deskriptif. Chomsky menuturkan bahwa anak
memperoleh bahasa itu bukan seperti piring kosong, tabularasa, dia memperoleh
bahasa sama seperti mereka memperoleh kemampuan untuk berdiri dan berjalan
Dalam model stimulan
dan respon pemerolehan bahasa arab pada siswa non-native di indonesia dapat
diaplikasikan terhadap model pemerolehan bahasa arab dengan stimulan pembelajaran
keterampilan berbicara. Keterampilan berbicara bukanlah merupakan keterampilan
yang sederhana yang dapat dikuasai dalam jangka waktu yang singkat. Dengan kata
lain, menurut brown, keterampilan berbicara merupakan keterampilan yang komplek
yang berkaitan dengan keterampilan mikro antara lain adalah sebagai berikut :
1. Keterampilan
menghasilkan ujaran-ujaran yang bervariasi
2. Menghasilkan
fonem-fonem dan varian-varian alophon lisan yang berbeda dalam bahasa
3. Mendapatkan
pola tekanan, kata-kata yang mendapat dan yang tidak mendapat tekanan, struktur
ritmis, dan intonasi.
4. Menghasilkan
bentuk-bentuk kata dan frase yang diperpendek
5. Menggunakan
sejumlah kata yang tepat untuk mencapai tujuan tujuan pragmatis
6. Menghasilkan
pembicaraan yang fasih dalam berbagai kecepatan yang berbeda
7. Mengamati
bahasa lisan yang dihasilkan dan menggunakan berbagai strategi yang bervariasi,
meliputi pemberhentian sementara, pengoreksian sendiri, pengulanga untuk
kejelasan pesan.
8. Menggunakan
kelas kata dan sistem
9. Menghasillkan
pembicaraan yang menggunakan elemen-elemen alami dalam frase, stop, nafas, dan
kalimat yang tepat.
10. Mengekspresikan
makna tertentu dalam bentuk-bentuk gramatika yang berbeda
11. Mengguakan
benttuk-bentuk kohesif dalam diskursus lisan
12. Menyelesaikan
fungsi-fungsi komunikasi dengan tepat menurut situasi, partisipan, dan tujuan
13. Menggunakan
register, implikatur, aturan-aturan pragmatik dan fitur-fitur sosiolinguistik
yang tepat dalam komunikasi langsung.
14. Menunjukkan
hubungan antara keejadian dan mengkomunikasikan hubungan-hubungan antara ide
utama, ide pendukung, informasi lama, informasi baru, generalisasi dan contoh
15. Menggunakan
bahasa wajah, kinetik, bahasa tubuh, dan bahasa-bahasa nonverbal lainnya yang
bersamaan dengan bahasa verbal untuk menyampaikan makna
16. Mengembangkan
dan menggunakan berbagai strategi berbicara, memberikan tekanan pada kata kunci
parafrase, menyediakan pertolongan dan secara cepat menilai seberapa baik
interlocutor memahami apa yang dikatakan.
Komentar
Posting Komentar